Spunky!

Smile (part#1)

Posted on: March 3, 2010

Seperti biasa, kau masuk tanpa mengetuk. Hanya suara derap sepatumu yang bicara. Jas hitam melekat indah di badanmu. Rambutmu bergerak seiring langkah kaki besarmu.

Kau menggiringku berjalan. Mendesakku ke ujung ruang kamar kos yang sempit. Bagaimana kau menemukanku? Harusnya tiada lagi pertemuan semacam ini…

Kau tak bicara. Hanya sentuhan itu yang mengatakan lebih dari yang ‘kan kau katakan. Kau menghadang semua langkahku. Lalu kau mengecupku. Sesuatu yang lebih dari yang kuharapkan mulai mengalir dalam diriku. Rasanya pedih. Sakit. Tenggorokanku tercekat. Rasanya seperti paru-paruku terdesak keluar dan aku susah bernafas. Harusnya aku berontak! Akalku memerintahkanku untuk berteriak dan berlari. Namun, tidak halnya dengan apa yang berlaku. Aku membiarkanmu! Dan bibirmu mengatakan lebih dari yang kuharapkan. Kau menciumku dengan kuat, penuh rasa kepemilikan. Aku tak mampu bicara. Hanya air mata yang mngalir tanpa ijinku. Lalu kau membasuhnya dengan sebuah gerakan dari jari telunjukmu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kau bisa menyentuhku dengan begini lembut dengan jari-jarimu yang selalu dikotori darah-darah.

Kau memandangku. Dan aku memandangmu. Namun bukan dirimu yang kulihat. Kulihat hari-hari sepi di sebuah istana. Kurasakan kembali malam-malam sepi di dalam sangkar emas. Aku bukan perhiasanmu! Aku bukan mesin pemuas nafsumu!

Kau berbalik. Bukan sesuatu yang kukira sebelumnya. Kini kau bersandar di daun pintu yang terbuka lebar menampilkan pengawal-pengawalmu yang tak bisa kuhitung dengan cepat. Kau mengulurkan tanganmu yang besar. Tangan yang pernah memelukku. Mengapa kau sering melakukan hal-hal yang tak bisa kumengerti??

Nalar dan logika seakan musuh besarku. Aku bukan hanya menghampirinya…tapi aku sedang meraih untuk memeluknya. Otakku berontak! Tidak! Aku tidak akan kembali menjadi budaknya. Aku bukan miliknya! Dan seketika itu, aku berbalik. Sempat kulihat mata besarnya memancarkan hal yang tak bisa kutafsirkan dan bibirnya menyunggingkan semyum yang-ku-tak-pernah-tahu-artinya.

Aku melayang! Hey, yeah! Aku melayang dalam arti sebenarnya. Dalam hitungan yang sangat cepat, ia mengangkatku dan meletakkanku ke pundak kanannya dalam satu sapuan tangan. Oh…damn!

“Let me go!!” dan aku menyadari bahwa semua pengulangan dari teriakanku adalah sia-sia belaka. Tak ada satu orang pun yang berani melawannya atau bahkan satu dari sekian pengawalnya.

Aku ingat bagaimana kau menggendong seorang anak perempuan kecil dengan lembut di punggungmu dan BUKAN di pundakmu. Aneh dan tak masuk akal bagaimana kau bisa memperlakukan aku seperti ini dan memperlakukan anak kecil asing yang kehilangan ibunya di pinggir jalan dengan lebih baik.

May 16, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2010
M T W T F S S
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 61 other followers

%d bloggers like this: