Spunky!

Asem Manis Angkot Ibukota

Posted on: March 15, 2010

Satu yang ga bakal jauh dari kehidupan (karyawan) di ibukota, tak lain dan tak bukan, adalah…

jreng, jreng….

angkot!

Ok, ngomong soal angkot, ada manis-pahit, juga seneng-sebel. Walau kalau boleh jujur, pasti bagian ga enaknya itu ada sebesar 85% dibanding yang enaknya😀

15% ini gw bagi tiga lagi. 5% pertama gw masukin untuk harganya yang murmer dan 5% kedua untuk kesiapan mereka mengantar kita sampai ke tujuan tepat (walau hal ini kadang bikin kesal para pengendara lain yang ngantri di belakang angkot yang lagi menurunkan penumpang). Dan terakhir, untuk kemampuan para supir menerjang jalanan macet (sumfe, mereka ga pernah mengenal arti kata menyerempet, menabrak, atau yang semacamnya itulah; fyi: udah banyak kejadian gw lihat supir angkot berantem, *sigh).

Ngomongin soal angkot, kurang afdol kalau ga dimulai dari cara menyetir supirnya dulu. Hmm, ni abang-abang dari luar daerah emang kalau menyetir, kadang suka lupa ingatan gitu. Suka berasa Schumacher atau Vin Diesel. Hahahahaha… Pernah satu kali dimana angkotnya melayang (okay, ini hiperbola) dan gw harus berpegangan pada langit-langit angkot… ciiiiuuuuu… Biasanya hal ini dipacu oleh rasa bersaing para supir. Jika ada angkot sejenis dalam jalur yang sama, mereka akan mati-matian saling mendahului (sumpeh, mereka bener-bener deh). Tapi tahu kan, segala sesuatu yang berlebihan kan emang ga baik, termasuk rasa saing itu.

Kejar setoran, kejar setoran…
Tahu sih, bang, Abang pasti kejar setoran… tapi…, tapi JANGAN turunin saya di pinggir jalan sepi begini dunk. Wkwkwkwkwk…
Jadi, kalau lagi menumpang angkutan, tiba-tiba si-abangnya tengak-tengok belakang, terus bilang, “dah seribu aja, neng, seribu, seribu”, gw langsung illfeel. Hohoho, moral of the story nya adalah kita harus selalu bawa uang di saku, karena kita ga pernah tahu kapan harus bayar dan dimana.

Sekarang dari sisi calon penumpangnya. Paliiiing keki kalau ada (calon) penumpang, yang udah ditungguin nyebrang, luamaaaa…, eeeh! ternyata ga naik. Kasihan dunk supir yang udah nungguin, dan gw selaku penumpang (yg kepanasan) di dalam angkot. Jangan kasih harapan kosong dunk! Kali lain, kalau lagi jalan dan ada angkutan umum nungguin, buru-buru deh kasi tangan (ala ber-dadah-dadah-ria) ke tu angkutan!

Kalau dari sisi gw, sebagai pengguna setia jasa perangkotan (dan trans, kopaja dan minibus), selama ini sih gw enjoy aja. Ya kalau ga mau berdesakan, ya jangan pernah naik angkot. Jadi syukurlah, sampe saat ini, gw masi ikhlas gitu, berkeringan, berdesakan ataupun duduk di ujung paling dekat pintu. Semilir, bok! Tapi duduk di dekat pintu bukan pilihan gw lah (secara selain bahaya, bikin gw jadi mati gaya, ga bisa baca novel, hehe). Cuma kadang aga kurang ngerti jalan pikiran para cowo yang ada di dalem angkot. Tak bisa-kah kalian (para cowo) duduk tanpa membuka kaki lebar-lebar selama hanya, well, setengah jam??

Hohoho, happy angkot day, girls!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2010
M T W T F S S
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 61 other followers

%d bloggers like this: