Spunky!

Nostalgila (part#3)

Posted on: March 18, 2010

Dear Leon,
Peristiwa apa??? Eh, harusnya aku engga bertanya. Aku engga mau membahas keegoisanku sendiri, Leon.
Yang penasaran, Cika

Cika,
Suatu hari kamu memintaku untuk mendiamkanmu, dalam rentang waktu yang tak ditentukan. Hanya untuk membuktikan perasaanmu sendiri.

Leon,
Terus? Saat itu apa yang kamu lakukan saat itu??
Ngomong-ngomong, kau harus meminta kepastian, Le. Kamu berhak untuk itu.

Cika,
Saat itu, tentu saja aku menolaknya. Sampai aku berpikir apa arti semuanya kalau tiba-tiba kau meminta hal seperti itu. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, jadi selama ini kita pacaran untuk apa? Dan akhirnya kita benar-benar saling diam.
Kepastian? Dari siapa?

Leon,
Hefff, ku harap aku bisa jawab sesuatu tentang itu… Katakanlah aku dulu gila. Aku engga bisa mengerti jalan pikiranku saat itu. Hmm, aku bahkan belum bisa berdamai dengan diriku sendiri saat itu. Bagaimana aku bisa berdamai dengan orang lain? Oi ya, kita diam-diaman berapa lama?
Minta kepastian dari cewe kamu dong, Le… Masa sama tetanggaku? He-he-he
Sobatmu, Cika

Cika,
Selama beberapa minggu. Dan semenjak itu, kita ga pernah bisa akur lagi. Berkat ketidak-pahaman akan perasaan masing-masing. Semua berawal dari kamu, Cika.

My dear Leon,
Kok jadi berawal dari Cika, sih? Hmm, jadi kamu menganalisa, ya?

Cika,
Kali pertama terjadi saat kita baru berusia lima bulan, saat kita masih duduk di kelas dua. Ingat? Aku mengiyakan karena, seperti biasa, kau memaksa. Dan kupikir oke untuk sekedar iseng dan sesuatu yang seru. Walau agak tak masuk di akal dan ide awalmu sangatlah sepele.

Leon,
Emang apa ide awalnya???
Yang penasaran, Cika

Cika,
Ide awal kamu saat itu adalah, “Napa sih orang lain berantem, sedang kita ga pernah?”. Aku mengingatnya dengan jelas. Dan dilanjutkan dengan peraturan dan perjanjian yang ga jelas ujungnya.
Hi, btw, sedang apa disana? Bukannya sudah jam pulang kantor? Hati-hati di jalan, ya.

Leoooon,
Ha-ha-ha, iya, aku cukup familiar dengan kalimat, “kenapa sih kita engga pernah…?” Ha-ha-ha…
Kalau untuk perjanjian-perjanjian itu, emangnya apa saja?
Belum pulang, Le, masih ada kerjaan. Mungkin sebentar lagi. Seperti biasa, tugas diberikan di menit-menit terakhir. Mereka benar-benar engga ikhlas membiarkanku pulang tepat waktu. Grrrr…
Yang capek, Cika

Cika,
Kalau aku menulisnya, itu pasti sudah jadi sebuah kamus mungkin. LOL.
Di kelas tiga, kejadiannya juga berulang. Sudah lupa, ya.
Pulanglah kalau sudah lelah, Cika. Tak ada yang bakal menyalahkanmu.

Leon,
Oh ya? Kelas berapa diam-diaman yang kedua? Aku lupa semua… Maaf. Terlalu banyak kejadian.
Iya, Le, pasti segera pulang, setelah yang satu ini 
Ah, kenapa kita engga se-terbuka ini waktu SMA??

Cika,
Kau masih workaholic seperti dulu.
Jadi, begitu ya? Yah, itu memang sudah sepuluh tahun yang lalu. Nampaknya semua cewe jaman sekarang mengidap lost memory syndrome.
Dan, sekali lagi, hati-hati di jalan. Perhatikan jalanmu!

Leon,
He-he-he, kau mengira aku akan jatuh tersandung, ya?
Iya, kau sudah dengar Mama dan Papa akhirnya resmi bercerai? Eh? Pacarmu juga pelupa? Ha-ha-ha…
Yang mau pulang memelototin trotoar, Cika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2010
M T W T F S S
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 61 other followers

%d bloggers like this: